Minggu, 22 Maret 2020

Ikhlas dan Pengorbanan

Aisyah adalah gadis kecil yang imut, dia mempunyai banyak teman disekolahannya, sikapnya yang baik hati, perhatian dan peduli membuatnya disukai banyak orang. Aisyah pun sangat suka dengan menulis, dia sering menulis cerpen ataupun puisi. Aisyah adalah salah satu anggota mading disekolahanya, kali ini dia mendapatkan banyak tugas, Aisyah adalah gadis yang menyukai Adam, namun dia harus melepaskan laki-laki itu demi sahabatnya.
Ketika pelajaran berlangsung, kini adalah pelajaran biologi, guru itu sibuk menjelaskan, namun Aisyah malah asik dengan pikirannya sendiri, untuk menghilangkan rasa bosan Aisyah pun langsung membuka buku diarynya yang selama ini selalu menemani perjalanan hidupnya dan sudah menjadi kebiasaan Aisyah yang selalu menceritakan kejadian dan perasaannya pada kertas putih yang ia miliki itu.
Diary Hati...
Tuhan, aku mencintainya namun aku pun tau jika sahabatku sendiri lebih mencintainya. Jangan biarkan hati ini telah tebakar oleh api kecemburuan, ketika diri ini belum mampu memantaskan, mendoakan adalah cara terbaik untuk berjuang tanpa harus kehilangan. Aku ikhlas jika melepaskannya untuk sahabatku.”
Tanpa Aisyah sadari Fatimah telah membaca curahan hatinya, dan Fatimah sangat mengerti dengan perasaan Aisyah selama ini. “Jodoh itu tidak kemana Aisyah,” Ucap Fatimah membuat Aisyah kaget dan langsung menutup bukunya. “Tidak perlu kau cerita pun, aku tau bahwa kamu suka dengan Adam, Aisyah.” Lanjutnya, membuat Aisyah terkejut dengan apa yang Fatimah katakan, dan kini rahasianya telah diketahui sahabatnya.
“Aku mohon jangan beritahu ini pada siapa pun Fatimah.” Pinta Aisyah pada Fatimah sambil memohon, sungguh ia tidak ingin perasaannya diketahui oleh siapapun, apalagi Adam.
  “Iya aku gak bakal kasih tau, yang sabar ya Aisyah, jodoh mah gak bakal kemana kok.” Ucapnya sambil tersenyum, Aisyah sangat percaya pada Fatimah.
Setelah pelajaran selesai sebenarnya Aisyah ingin pulang bersama Asiyah tapi, sepertinya gadis itu sedang mencari Adam entah ada urusan apa dia sama Adam tapi, Aisyah berusaha buat berpikir positif yang akhirnya Aisyah pulang bersama Zahra dan Salma.
Di perjalanan Aisyah melihat jika Asiyah sedang bercanda dengan Adam, Hati Aisyah merasa terluka melihat pemandangan itu, air matanya seakan-akan memaksa ingin keluar namun, Aisyah berusaha menahannya karena ia tidak ingin menangis didepan Zahra dan Salma.
Sesampai dikontrakan Fatimah, Aisyah langsung masuk ke kamar dan termenung didepan cermin sambil memikirkan wanita yang Adam sukai dan akhirnya air mata Aisyah tumpah setelah beberapa detik ia tahan.
"Aisyah." Panggil Fatimah dengan bunyi pintu yang terbuka, Aisyah pun yang kenal suara Fatimah langsung menghapus air mata dipipinya dan kembali duduk.
Fatimah meraih dagu Aisyah, menatap mata Aisyah yang sembab. "Kamu habis menangis Aisyah? Ada apa denganmu?" Tanya Fatimah khawatir, sambil duduk disamping Aisyah. 
Aisyah menatap sahabatnya itu, lalu tersenyum. "Aku gak nangis kok, tadi terkena debu dijalan, Aku tidak kenapa-apa. Owh iya kapan kita mulai belajarnya?" Jawab Aisyah mengalihkan topik pembicaraan.
Fatimah sangat tau bagaimana sahabatnya ini, "Mulutmu boleh berkata bohong tapi, matamu tidak bisa Syah." Ucap Fatimah. Aisyah menunduk sedalam-dalamnya mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak rapuh didepan sahabatnya.
"Assalamualaikum." Ucap Asiyah kemudian, sambil meletakkan tasnya dilantai. Aisyah maupun Fatimah langsung menoleh kearah pintu. Ternyata Asiyah.
"Wa'alaikumsalam."Jawab Aisyah dan Fatimah bersamaan.
Asiyah menghampiri kedua sahabatnya itu, awalnya ia kaget melihat ada Aisyah dikontrakannya, "Kamu kenapa Aisyah?" Tanya Asiyah sambil duduk didekat Aisyah, ada rasa aneh dihatinya saat menyapa Aisyah.
"Mmm... Aku mau shalat dulu ya Fatimah." Ucap Aisyah dan berlalu pergi, Aisyah sangat kecewa dengan apa yang dilihatnya tadi. Egonya lebih besar dari keinginannya.
“Owh yasudah, mukenanya dikamar aku ya Syah,” Teriak Fatimah yang masih terdengar oleh Aisyah.
"Fatimah, ada apa dengannya?" Tanya Asiyah, sebelah alisnya terangkat bingung.
"Aku tidak tau pasti Asiyah, tapi sepertinya dia sedang terluka." Jawab Fatimah sambil menggelengkan kepalanya, berlalu mengambil mukena dan bergegas turun untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur. 
####
1 Bulan kemudian, Asiyah menyadari akan sikap Aisyah yang selalu menghindar, dulu Aisyah tempatnya bertukar cerita, dulu bahu Aisyah tempatnya bersandar, dulu Aisyah yang selalu menasehatinya. Dia baru menyadari bahwa hubungannya dengan Aisyah semakin jauh, bahkan pulang sekolah pun tidak pernah bareng dengan Aisyah.
“Kamu harus belajar yang rajin, jangan memikirkan cowok yang masih haram, ingat! Allah itu maha cemburu.” Nasehat itulah terakhir yang dia dengar saat dia bercerita tentang kecemburuannya pada Adam yang dekat dengan Fitri.
Asiyah pun pernah mencari Aisyah dirumahnya namun, hanya ada Adiba, Bundanya Aisyah, kata Bundanya, Aisyah selalu sibuk akhir-akhir ini, bahkan Adiba pernah memarahinya karena tidak mengajar di TPA tapi Aisyah selalu menjawab Aisyah harus fokus sama ujian kelulusan Aisyah, dan Aisyah pun harus bagi waktu untuk menghafal. Asiyah tau jika Aisyah adalah anak yang rajin dan gigih dalam hal yang ingin dia capai. Pernah sekali Asiyah mengirim pesan pada Aisyah namun hanya dibaca.
Asiyah pernah membuka buku diary Aisyah dan menemukan sebuah surat yang isinya berhasil membuatnya menangis.
Dirimu sangatlah sempurna dimata semua orang, sehingga banyak orang yang ingin memilikimu, tapi sikapmu tak menunjukan kalau kau suka dengan semuanya, semua ingin tau siapa dihatimu? Kau merahasiakan hatimu pada semua orang, kau simpan rahasia dalam hatimu, kau biarkan ruang kosong dihatimu, yang semua orang tidak tau siapa yang akan mengisi ruangan itu? Entahlah kenapa aku bisa jatuh cinta padamu Adam Rohikal. Laki-laki yang haram untuk dipikirkan dan dipandang, mungkin aku cinta karena ketaatanmu pada-Nya dan aku menyayangimu atas izin-Nya. Sungguh ini bukan atas nafsuku. Maafkan aku yang sudah lancang menaruh hati padamu.
Hiks... hiks
Asiyah menangis tersedu-sedu, betapa bodohnya dirinya selama ini, kenapa dirinya tidak pernah tau akan perasaan sahabatnya? Asiyah pun langsung menaruh buku itu dan berlari mencari seseorang. Dadanya terasa sesak menahan sakit.
“Fatimah kenapa kamu gak bilang, jika Aisyah mencintai Adam? Kamu jahat banget jadi sahabat, gara-gara ini semua, Aisyah menjauhiku. Kenapa kamu gak cerita sama aku, Fatimah?” Asiyah menangis dipelukan Fatimah. Selama ini Aisyah pasti sangat terluka melihat kedekatan Asiyah dan Adam. Sungguh Asiyah sangat merasa bersalah, setahunya Aisyah tidak mencintai Adam, semua yang didengarnya hanya gosip dan ternyata gosip itu benar dan Asiyah tidak pernah mengetahui perasaan Aisyah yang sebenarnya.
Fatimah hanya diam tangannya tidak berhenti mengelus-elus punggung sahabatnya, mencoba menenangkan emosi yang telah membakar Asiyah. “Maafkan aku Asiyah, bukan maksudku untuk menjauhkan hubungan kalian, aku pun sedang mencoba mencari tahu jalan keluarnya dan aku berjanji aku membantumu untuk berbicara dengan Aisyah, kamu yang sabar ya.” Fatimah berharap dia bisa menepati janjinya, bermusuhan itu dilarang oleh agama apalagi sampai lebih dari 3 hari.
Fatimah, mencoba mendekati Aisyah yang sedang duduk ditaman. "Aisyah, kamu masih marah sama Asiyah?" Tanya Fatimah, mencoba mencaritahu alasan Aisyah menghindar dari semua orang.
Aisyah menatap Fatimah sendu. “Aku masih kecewa dengan Asiyah Fatimah,” Ucapnya lirih.
"Aku mengerti Aisyah tapi, apakah kamu mau persahabatan kita hancur hanya karena laki-laki." Tanya Fatimah. “Kamu lupa Aisyah dengan janji kita dulu?”
"Aku tidak ingin itu terjadi Fatimah, tapi aku juga tidak bisa kembali seperti dulu. Beri waktu untuk ku menenangkan hati ini, kau tau bagaimana sakitnya dikhianati? Kau tau betapa sulitnya untuk ikhlas?” Aisyah tidak bisa menahan air matanya, apa yang ia lakukan selama ini adalah kemauan hatinya. Keegoisan cinta telah menghancurkan persahabatannya.
Fatimah tau apa yang Aisyah rasakan, "Aku tau itu Syah, tapi apakah kamu akan terus seperti ini, disaat waktumu hampir habis. Ingat Aisyah jangan pernah lupakan sahabatmu dimana pun kamu berada dan jika kamu rindu kepadaku kembalilah ke Indonesia, disini aku akan menunggumu." Fatimah pun memeluk Aisyah dengan erat, merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tulus dari seorang sahabat.
####
"Aisyah maafkan aku, maafkan aku Aisyah." Asiyah langsung menjatuhkan tubuhnya dipelukan Aisyah. Tentunya Asiyah terkejut melihat kehadiran Aisyah.  
Kini air mata Aisyah mengalir tanpa henti, pelukan Asiyah membuat Aisyah merasa bersalah telah menjahui Asiyah, “Maafkan aku yang sudah menjauhimu.” Cinta telah membutakannya dan merubah sikapnya dan tentunya itu telah menghancurkan persahabatan mereka.
"Asiyah, sudahlah yang lalu biarlah berlalu, kini aku sudah melupakan Adam lagi pula aku sudah mengikhlaskan dia untuk orang lain, dia mencintaimu Asiyah," Ucap Aisyah sambil menatap Asiyah, kini jatuhlah air mata kerinduan dan pengorbanan.
"Tidak Aisyah! Aku tidak akan memilikinya percayalah aku sahabatmu, aku akan menjahui Adam. Aisyah, aku tau cintamu tulus untuknya." Kini Asiyah yakin dengan janjinya untuk melepaskan Adam untuk Aisyah sahabatnya, walaupun tidak mudah untuk melupakan orang yang telah hadir dalam hidupnya.
"Tidak perlu Asiyah! Sebentar lagi aku akan berangkat ke Turky, dan disana aku akan memulai kehidupanku yang baru, aku akan melupakannya, Asiyah.” Biarkan Allah yang menentukan siapa jodoh Aisyah nanti yang pasti itulah yang terbaik buat sahabatnya.
"Aisyah, mungkin kita tidak bisa kembali seperti dulu, tapi aku bahagia pernah bersamamu dan aku berharap kamu tidak akan melupakan aku, Aisyah. Dan aku tidak bisa memaksakan keinginanmu, Turky adalah kota impianmu sejak dulu, dan kini telah tiba waktu kamu untuk mengunjungi kota impianmu. Percayalah aku akan menunggumu disini." Kini pelukan hangat seorang sahabat kembali Aisyah rasakan.
"Asiyah, kamu adalah sahabatku dan selamanya akan begitu. Aku tidak akan melupakanmu. Doakan aku selalu ya." Ucap Aisyah sembari tersenyum manis.

Jumat, 20 Maret 2020

Kenangan

Aku pergi bersama waktu
Meninggalkan kamu dan kenangan
Aku terhempas disuatu keadaan
Yang mana membuatku melupakanmu...

Maafkan aku yang telah pergi
Keadaan yang memaksaku untuk pergi
Aku pergi membawa kenangan
Yang sulit untuk ku lupakan

Kala terdiam ku ingat akan tawamu
Kala sendiri ku ingat akan perkataanmu
Kala ku sedih aku  ingat akan dirimu
Semua itu membekas dalam ingatanku...

Aku hilang ditelan masa
Aku bingung dilanda kerinduan
Aku lenyap terbawa jarak
Dan aku hanya bisa diam...

Rindu menghampiriku dalam diam
Aku terjebak dalam bayanganmu
Bayanganmu yang sulit untuk dilenyapkan
Berserta kenangan yang sulit untuk ku lupakan...

Kejamnya waktu dan jarak
Aku lelah menunggu waktu
Aku menyerah pada rindu yang terus berteriak
Hati ini berteriak meminta untuk menghilangkan jarak..

Dua tahun yang lalu kau masih bersamaku
Melihat senyummu setiap hari
Menemaniku disaat ku sendiri
Tertawa bersama saat melihat ada yang lucu

Jumat, 28 Februari 2020

Rahasia Hati


“Keyla”
teriakan itu berhasil membuat langkah Keyla berhenti, suara yang sangat dia kenal, Kania. Sahabatnya sejak SD, tempat Keyla berbagi cerita.

“Ada apa Nia?” gadis itu terlihat cemas, Keyla ikut khawatir saat tiba-tiba Kania memeluknya, erat sangat erat membuat Keyla kesulitan untuk bernafas. 

“Keyla” ucapnya parau, terdengar ingin menangis, Keyla bingung apa yang telah terjadi dengan sahabatnya. “Keyla, Adit  jahat.” lanjutnya lirih.

Adit? Dia tau jika cowok yang dia dengar itu adalah sahabat cowok Kania, dan Keyla juga tau bahwa sahabatnya ini mempunyai perasaan lebih dari pada cowok itu, lebih dari kata sahabat.

“Oke, lebih baik lo tenangin dulu ya, baru cerita. Biar gue faham, apa yang terjadi dengan lo berdua.” gadis itu membawa Kania untuk duduk dibangku panjang belakang sekolah, yang tak jauh dari mereka berdiri.

Sedetik kemudian Kania melepaskan pelukannya, matanya sembab karena menangis. Kania masih diam mengatur nafasnya yang mulai sesak. “Dengerin ya, tapi jangan potong sebelum gue selesai cerita.” katanya. 

Keyla mengangguk faham, lalu memandang Kania dengan rasa simpati.
Kania adalah gadis tak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, dan bagaimana rasanya suka dengan lawan jenis namun, semuanya berubah semenjak Kania mengenal cowok yang bernama Adit anak kelas 12 A, mereka menjalin persahabatan, keduanya saling terbuka akan masalahnya masing-masing. Namun, tanpa Adit sadari Kania mempunyai perasaan yang lebih kepadanya, lebih dari kata sahabat. Dan Kania sakit hati saat mengetahui hubungan dekat Adit dengan Silah adik kelasnya.

“Gu-e gak nyang-ka, Adi-t bisa ing-kar sama janji-nya.” katanya sambil menangis, terdengar terbata-bata karena tangisannya. Keyla tau gimana perasaan sahabatnya ini. Sakit memang karena cinta dan rasa sakit itu saling berkaitan. Namun sebisa mungkin Keyla bersikap tenang. “Dia angg-ap apa gue sela-ma ini?” lanjutnya masih dalam isak tangisnya.

“Gue juga gak nangka dengan sikap Adit, tapi gue juga gak bisa marah sama dia, kitakan juga gak tau apa benar Adit mempunyai hubungan khusus dengan Silah? jadi menurut gue, lo jangan berpikir negatif dulu, kita bakal cari bukti yang sebenarnya. Gue janji bakal bantu lo,” Keyla menghapus air mata Kania dengan kedua tanganya, rasanya dia tak pernah melihat sahabatnya menangis sampai sesegukan hanya karena cowok yang udah buat dia mengenal rasa yang sebelumnya belum pernah dia mengerti.


“Makasih Key, lo emang sahabat gue paling pengertian,” Kania pun memeluk Keyla, suaranya sudah kembali seperti biasanya, Keyla tau jika sahabatnya ini adalah wanita yang kuat, Keyla janji bakal selalu ada disaat Kania sedang terjatuh.


####
“Kania gue pergi duluan ya, gue ada perlu sebentar.” ujar Keyla berpamitan, belum sempat Kania bertanya mau pergi kemana, Keyla sudah menghilang dibalik pintu terlebih dahulu.

“Adit, gue mau ngomong sama lo, gue tunggu dikantin belakang sekolah ya.”

Setelah pesan yang dikirimnya sejam yang lalu, Keyla menuju kantin dibelakang sekolahnya, sesuai janjinya pada cowok itu. Setelah sampai Keyla dikantin, matanya langsung menemukan cowok yang bersergam Putih abu-abu seperti pakaiannya.

“Maaf, udah lama nunggu?” tanyanya saat sudah sampai didepan cowok itu.

“Gak apa-apa, gue juga baru dateng kok,” Jawabnya santai, terlihat dari nada bicaranya, Keyla mendengus lega sebelum merebahkan punggunya dibangku. 

“Lo mau pesen minuman apa Key?” tawarnya sambil melambaikan tanganya pada Bi Inah penjual kantin itu.

“Apa aja deh terserah lo.” 

Adit diam, saat Keyla tak kunjung berbicara. “Lo mau ngomong apa Key?” tanyanya penasaran. Keyla terdiam sebentar karena dia takut mencampuri urusan orang lain, kalau tidak untuk sahabatnya mana mungkin dia mau ngelakuin ini semua, tak lama kemudian pesanan pun datang. “Makasih Bi.” ucapnya pada Bi Inah.

“Gue mau nanya sama lo Dit, tapi gue mohon jawab pertanyaan gue dengan jujur ya.” Keyla berhenti sebelum melanjutkan perkataannya, setelah melihat Adit mengangguk, Keyla pun melanjutkannya. 

“Gue mau nanya sama lo, sebenarnya lo sama Kania itu punya hubungan apa sih?” Keyla menatap Adit, mencoba melihat kejujuran cowok itu.

Adit meminum es  tehnya sebelum dia mulai menjawab, terlihat bingung namun tetap harus dia jawab, “Gue sama Kania cuma sahabatan.” katanya tegas.

Dasar bego! dia bilang cuma? berarti Adit memang tidak memiliki perasaan lebih pada Kania, apakah benar Adit tidak tau perasaan Kania sebenarnya, apakah cowok itu tidak merasakan sikap Kania kepadanya sedikit pun.

“Owh, cuma sahabat ya?” Keyla dengan sengaja mengulangi perkataan cowok itu, Adit mengangguk membenarkan perkataan cewek didepannya. “Kalau lo sama Kania cuma sekadar sahabat, berarti lo juga punya rasa sayang terhadap sahabat lo kan?” Keyla menekankan perkataan ‘sayang’ pada kalimatnya.

“Iya gue sayang sama Kania sebagai sahabat gak lebih,” Adit memang cowok yang tegas dalam mengambil keputusan, “Prinsip gue, sekali sahabat ya tetap sahabat gak bakal lebih.” lanjutnya, Keyla mengangguk mengerti. Kasihan Kania jika dia tau bahwa Adit hanya menganggapnya sahabat pasti hatinya akan hancur.

“Oke, gue percaya sama lo,” 
Keyla menatap Adit yang sejak tadi menatapnya juga dengan tatapan tajam, “Dan gue pesan sama lo jangan pernah sakiti sahabat lo sendiri, jaga perasaan sahabat lo, jika lo memang sayang sama dia.”

Keyla berharap perkataanya dapat membuat cowok itu mengerti dan sadar. Keyla pun bangkit dari tempat duduknya, setelah mengatakan itu Keyla pergi meninggalkan Adit yang masih berpikir. Sial. Desis Adit.
####
Part 2
“Belum tidur kau?”

Satu pesan masuk diponsel Keyla, gadis itu sedikit terkejut saat melihat jika itu pesan dari Fadhil Rohikal. Kini jari Keyla telah menciptakan satu kalimat jawaban.

“Belum...” Jawab Keyla antusias.

“Kenapa?”

Entah itu rasa ingin tau Fadhil atau sekedar basa-basi, Keyla tidak tau. Cowok itu susah ditebak.

“Belum ngantuk”

“Kenapa?” 

 “Gak tau, kau sendiri belum tidur.”

“Kok gak tau? Aku masih ada urusan, tidurlah hari sudah malam.”

Saat Keyla ingin membalas cowok itu sudah tidak aktif, Keyla membaca ulang chattannya tadi, entah kenapa senyum dibibir tipisnya tak bisa disembunyikan, Fadhil cowok yang nyebelin yang baru Keyla kenal, Keyla meletakkan ponselnya diatas meja dekat tempat tidurnya sebelum dia terlelap dalam mimpi.

Sebelum gadis itu berlalu masuk kekamar mandi, dia meraih ponsel diatas meja belajarnya, dan berniat mengirim pesan pada Kania untuk menjemputnya. 

1 Jam kemudian Keyla keluar dari kamar mandi dengan sebalut handuk yang melilit ditubuhnya, Keyla meraih baju pink dan celana jinsnya dari lemari. Kemudian memantulkan dirinya pada cermin untuk memakai lipsgos dan mas kara pada bulu matanya yang sebenarnya tanpa mas kara pun bulu matanya sudah lentik.

“Keyla, ada teman kamu nih yang jemput.” teriakan Bunda membuat Keyla panik dan tergesah-gesah, buru-buru Keyla merapihkan rambutnya dan segera turun.

Walau ragu, Keyla tetap yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, Keyla hanya bingung harus bersikap gimana saat ketemu Fadhil nanti. Saat Keyla turun dari tangga bukannya Kania yang dia lihat melaikan Arsyad yang sedang duduk bersama Ayahnya, kenapa Kania gak memberitahunya bahwa Arsyad yang akan menjemputnya. Duh Kania.
 
“Hai Key.” Sapa cowok itu saat melihat Keyla sudah didepan matanya, Keyla membalas dengan tersenyum, “Yaudah Om, saya dan Keyla pergi dulu ya.” Katanya sambil menyalami tangan Ahmad, ayah Keyla. “Ayo Key, nanti keburu macet.” 

“Jangan pulang malam-malam.” Kata Ardhi ayah Keyla, membuat Keyla mengangguk mengerti.

Keyla tersenyum saat Ayahnya tak banyak bertanya, Arsyad pun pergi terlebih dahulu untuk menghidupkan mesin motornya. Setelah sampai didepan pintu Keyla menghembus nafas lega.

“Syad, kok lo sih yang dateng?” Keyla memang ingin bertanya sejak tadi, melihat kedatangan cowok itu dirumahnya.

“Kania udah nunggu disana, jadi dia nyuruh gue buat jemput lo, udah buruan naik.”
 
Keyla dengan cepat langsung menaiki motor Arsyad. Arsyad mengencangkan laju motornya agar segera sampai, Keyla ingat bahwa Amel sedang suka dengan cowok ini, memang sih penampilan Arsyad terlihat sedikit keren, tubuhnya yang kekar karena sering olah raga, Arsyad memang anak futsall di Bina Bangsa. Wajar saja Amel suka padanya, Batin Keyla.

“Key, udah nyampe.” 

Cepet banget padahal baru jalan, udah nyampe aja. Keyla langsung turun dan merapihkan pakaiannya kembali. Restoran itu memang sangat ramai, Arsyad menarik tangan Keyla setelah selesai memarkirkan motornya, Keyla berjalan mengikuti Arsyad yang memang tau dimana teman-temannya sekarang. “Hay.” Terlihat Jaya melambaikan tangan kearahnya. Arsyad dan Keyla menoleh dan berjalan menghampiri teman-temannya.

“Woy, ada gosip baru nih kayanya.” Celetuk Riko saat melihat Tangan Arsyad berpautan dengan tangan Keyla, Arsyad refleks langsung melepas tangannya, cowok itu lupa untuk melepaskannya tadi. Terdengar suara tawa dari teman-temannya.

“Mel, Amel, Arsyad selingkuh nih.” Teriak Fadhil pada bangku rombongan cewek, Fadhil tau jika Amel menyukai Arsyad, gosip itu sering jadi bahan bullyannya dikelas.

“Bacot lo Fad,” Arsyad langsung memberi tatapan membunuh pada Fadhil, Keyla dengan kesal langsung pergi.

“Gue kesana dulu ya Syad.” Tatapannya tak lepas dari cowok itu, cowok itu pun membalas tatapan Keyla dengan mengangkat sebelah alisnya. Terlihat senyum samar dibibirnya, senyum yang selama ini membuat Keyla lemah.

Acara bukber itu pun berjalan dengan lancar, Ada rasa senang saat Keyla melihat Fadhil yang sibuk bercanda gurau dengan teman-temannya, rasa itu dinamakan rasa rindu, rasa yang tak wajar dia rasakan saat mengetahui Fadhil sudah memiliki orang lain. Sebelum pulang mereka mengabadikan moment itu.

“Nia pulang bareng gue yuk?” Kania menatap Keyla, ada rasa tak enak hati dari sorot matanya. Mana mugkin Kania meninggalkan Keyla sendiri.
 
“Gak apa-apa lo bareng Adit aja.” Keyla percaya Adit bisa menjaga Kania dengan baik. 

Keyla memutarkan pandangannya mencari seseorang dan ia kaget saat matanya bertemu dengan Fadhil, dengan cepat Keyla mengalihkan pandanganya. “Gue bisa naik taksi kok.” Lanjutnya. 

“Owh yaudah hati-hati ya Key.” Teriak Kania saat Adit mulai menjalankan motornya. Membuat Keyla melangkah menuju halte.

“Key, gue duluan ya.” Dari belakang terdengar suara Anna dan Keyla menoleh Anna dan Fadhil, pemandangan yang gak seharusnya dia lihat, Fadhil memang jahat, bisa-bisanya dia melakukan itu disaat dia tau ada orang lain yang akan terluka. 

Astaga! Keyla menggelengkan kepala berkali-kali, kenapa ingatan itu selalu muncul dipikirannya, mengingat itu semakin membuat Keyla merasakan sakitnya penghianatan dan sakitnya dimainkan.


Minggu, 23 Februari 2020

Tak Berdaya

Rindu ini memaksaku untuk mendekat 
Lupa akan adanya jarak diantara kita
Kamu itu bagaikan bulan bagiku
Yang sulit untukku jangkau

Ingatlah aku adalah temanmu dulu dan sekarang
Walau ku tau bahwa keadaan telah berubah
Aku tidak akan lupa akan sikapmu
Sikapmu yang tak pernah paham bagaimana perasaanku

Selama ini aku tak pernah mengira
Aku akan sampai pada satu titik
Yang mana semua itu sudah jelas dimataku
Sudah lama kau menyadariku 

Bahwa aku bukan siapa-siapa bagimu
Aku memang bodoh, mengharapkanmu
Jujur aku sendiri lelah dengan perasaanku
Namun, entahlah rasa sayangku padamu 

Walau ada batas untuk ku bertemu denganmu
Walau sering kali kau menyadariku
Walaupun sering kali sikapmu menyakitiku
Tetap saja rasa ini tidak pernah hilang
Aku tak berdaya dengan keadaanku ini
 

Hate

Aku memang tak pandai untuk berkata
Aku memang tak pintar dalam segala hal
Kalian tau? semua orang itu berbeda
Cobalah untuk menghargai orang lain
          I hate you all
          Sudah lama kalian mengujiku
          Tunggulah, waktu masih berputar
          2 Tahun lagi waktu ku akan tiba
Hitam putih kita jalani bersama
Suka dan duka kita rasakan bersama
Apa arti teman bagi kalian?
Adakah teman didunia ini?
  Katakan jika kalian memiliki seorang teman
yang mampu menerima kekurangan diri kalian
yang mampu mengerti apa yang kalian tidak suka
 

nidaamiratunnisa

Saya percaya, kebaikan sering lahir dari langkah sederhana. Tidak selalu dalam bentuk yang besar atau monumental, tetapi justru dari aksi ke...