aku adalah seorang gadis kecil yang imut dan mungil. bundaku
meninggal ketika bunda melahirkan adik pertama ku yaitu Raka saputra, aku
sangat merasa kehilangan sosok bunda, bahkan aku tidak mau menganggap Raka
sebagai adik karena gara-gara Raka bunda jadi meninggal tapi, nenek dan paman
ku menasehatiku kata mereka" Raka adalah adik kandungmu, bundamu yang
sudah melahirkannya untukmu, jika kamu tidak menyayangi nya berarti kamu tidak
sayang sama bundamu?, jika kamu sayang dengan Raka bundamu pasti akan senang di
alam sana" dengan lembut nenek menasehatiku tapi, aku tidak bisa menerima
semua kenyataan pahit ini.
"Tapi nenek, gara-gara Raka bunda jadi meninggal Amira lebih baik tidak punya adik dari pada Amira punya adik apalagi adik cowok" Ucap ku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Tapi nenek, gara-gara Raka bunda jadi meninggal Amira lebih baik tidak punya adik dari pada Amira punya adik apalagi adik cowok" Ucap ku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Paman tau Amira tapi, ini semua sudah menjadi takdir mu dan
kamu harus menerima semua ini dengan ikhlas, sayangi Raka seperti Amira menyayangi
bunda Amira"ucap paman
semua perkataan paman dan nenek itu benar "Aku sudah
kehilangan bunda dan aku tidak ingin kehilangan Raka juga, walau bagaimana pun Raka adalah adik ku satu-satunya dan bunda sudah melahirkannya dengan taruhan
nyawa. dan aku harus pun mencoba dan berusaha untuk bisa menyayangi Raka dan
menjaganya seperti bunda menjaga ku" janji ku pada diri sendiri
setelah kepergian bunda ayah tidak lagi tinggal bersama ku dan
adik ku Raka aku merasa kehilangan kedua orang tuaku walaupun aku masih
mempunyai nenek, kakek, paman dan bibi yang juga menyayangi ku tapi, aku rindu
sosok ayah dan bunda yang selalu memanjakan ku.
ketika itu aku berpikir jika ayah memang jahat ayah yang tega
meninggalkan anaknya sendirian dirumah, wajar saja paman dan kakek melarang ku
untuk bertemu dengan ayah karena ayah sendiri saja tidak pernah memikirkan
anaknya tapi, aku gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian
dari kedua orang tuaku.
#Pagi yang cerah...
Ketika aku pergi sekolah aku iri dengan semua teman-temanku yang diantarkan oleh kedua orangtuanya sedangkan aku, aku tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan terlihat canda dan tawa mereka dengan kedua orangtuanya.
setelah pulang sekolah aku menangis di pelukan nenek aku tidak
kuat merasakan ini semua aku ingin seperti mereka yang masih mempunyai kedua
orangtuanya.
"Amira kenapa menangis, apakah ada yang menyakitimu di
sekolah?" Tanya nenek.
"Nenek Amira iri dengan teman-teman Amira yang selalu diantar
jemput dengan orangtuanya" ucap ku sambil menangis.
"Amira juga kan bisa diantar jemput dengan paman nanti" Nenek berusaha menenangkan ku
"nenek, kenapa ayah tidak pernah menemui ku dan Raka?" Tanyaku memberanikan diri tapi, nenek hanya diam.
"Nenek...apa yang sebenarnya terjadi pada ayah, sehingga
paman melarang ku untuk menemui ayah dan mengapa kekek tidak mengizinkan ayah
untuk tinggal bersama aku dan Raka disini Nek? apakah ayah tidak sayang pada Raka dan aku Nek?" Ucap ku dengan nada yang meninggi air mata ku telah
membasahi pipi mungil ku dan baju sekolah ku.
"Amira, ayah sayang pada Amira dan Raka!" ucap nenek
yang ikut bersedih.
"tapi, kenapa ayah tidak pernah mengunjungi atau pun menemui Raka dan Amira?" Tanya Amira yang membuat nenek bingung apa yang harus ia
katakan pada cucunya ini.
"Amira, Amira tau sendiri kan ayah Amira sedang bekerja
mencari uang untuk Amira sekolah dan membeli Raka susu"Ucap nenek berkata
bohong.
"nenek bohong, ayah sudah tidak sayang lagikan sama amira?
ayah memang jahat! amira benci sama ayah"amira pun berlari meninggalkan
neneknya dan menangis didalam kamar.
Amira pun sangat kesal dengan ayahnya jadi wajar saja Amira
berkata seperti itu.
&&&
Setelah
bundaku meninggal aku jadi jauh dengan ayahnya, tidak tau kenapa aku dilarang
untuk ketemu ayah bahkan ayah menikah pun aku tidak dibolehkan untuk bertemu
dengan ayah dan bunda baru ku.
"Paman,
kenapa Amira tidak dibolehkan untuk melihat pernikahan ayah? Amira ingin
melihat bunda baru Mira?"Tanya ku dengan lirih.
"Amira
sayang, biarkan ayah mu bahagia dengan istri barunya, Amira tidak boleh bertemu
dengan ayah Amira !"Ucap paman tegas, aku pun langsung masuk ke kamar
meninggalkan paman.
aku pun
menemui nenek dan kakek di kamar adik bayiku Raka, ketika aku masuk aku merasakan
kehadiran bundaku di kamar itu. Ingin rasanya menangis ketika rasa sedih yang aku rasakan saat melihat Raka
yang kata orang mirip dengan bundaku dan sebagian lainnya orang bilang bunda
mirip dengan ku.
3 Tahun kemudian...
Hari demi hari aku selalu menjalankan hidup ku tanpa seorang bunda atau pun ayah di samping ku, kini aku telah duduk di kelas 3 SD, aku bisa sekolah tanpa uang dari ayah, hanya kakek dan nenek yang mengharapkan ku untuk bisa sukses, nenek berharap aku bisa sekolah dan sukses walaupun tanpa ada orang tuaku di samping ku. adik ku pun Raka sudah besar berkat nenek dan kekek aku dan Raka bisa hidup bahagia mereka lah yang sudah merawat dan membesarkan ku dan Raka selama ini. dan berkat pak de dan ibu de juga yang sudah menjadikan ku anak angkat mereka, pak de dan ibu de mereka sudah seperti ayah dan bunda ku, aku bahagia saat dekat dengan mereka, aku tidak merasa sedih saat mereka ada di samping ku. karena mereka sudah menganggap ku anak mereka sendiri karena memang mereka tidak mempunyai anak perempuan. namun terkadang aku merasa sedih ketika aku melihat teman-teman ku diperhatikan oleh orang tuanya.
"Aku butuh kasih sayang ayah dan bunda!"
"Kepergian sang nenek tersayang."
Saat aku sudah besar aku pun pergi untuk melanjutkan perjalanan hidup ku sekaligus aku ingin menuntut ilmu, aku pun meninggalkan nenek dan adik ku Raka atas izin nenek aku bisa pergi ke Pesantren yang aku inginkan, awalnya aku tidak ingin meninggalkan nenek sendirian dan aku tau jika nenek sering sakit-sakitan tapi, nenek menginginkan ku menjadi anak yang sukses, karena nenek yakin dengan kesuksesan ku nenek akan merasa senang karena nenek sudah berhasil mendidik ku dan tak sia-sia nenek dan kakek bersusah payah untuk membesarkan ku.
Singkat cerita!!!
jujur aku sangat merasa kaget ketika mendengar kabar dari saudaraku sekaligus bapak teman ku yang datang ke Pesantren untuk menjemput ku pulang dengan alasan yang sulit untuk ku terima.
"Amira, kita harus pulang nak," Ucap nya saat aku sudah berada di depannya.
"Kenapa? Amira tidak ingin pulang paman." Tolak ku dengan pelan.
"Tapi, nenek mu ingin melihat mu Amira!."
Jawaban itu! Seketika air mata ku menetes, aku merasa telah terjadi sesuatu dengan nenek namun apa itu apa itu aku tidak mengetahuinya? Pikiran ku pun melayang tiba-tiba aku tidak bisa lagi menerima jika kenyataan itu akan membuatnya kehilangan orang yang dia sayang, aku sangat menyayangi nenek, aku masih menginginkan nenek untuk selalu ada disamping ku.
"Amira, jangan menangis tidak terjadi apa-apa dengan nenek mu, dia hanya ingin melihat mu saja!" Ucap Ustdzah Ulfah menenangkan ku dan mengajak ku untuk bersiap-siap membereskan pakaian yang akan dibawa untuk pulang.
"Ustadzah, apa yang sebenarnya terjadi pada nenek?" Tanya ku saat aku sedang memasukan pakaian ku kedalam tas ku.
"Nenek mu tidak apa-apa, dia hanya ingin melihat mu saja, sudah jangan menangis berdoa lah semoga nenek mu tidak terjadi apa-apa!"
Hari demi hari aku selalu menjalankan hidup ku tanpa seorang bunda atau pun ayah di samping ku, kini aku telah duduk di kelas 3 SD, aku bisa sekolah tanpa uang dari ayah, hanya kakek dan nenek yang mengharapkan ku untuk bisa sukses, nenek berharap aku bisa sekolah dan sukses walaupun tanpa ada orang tuaku di samping ku. adik ku pun Raka sudah besar berkat nenek dan kekek aku dan Raka bisa hidup bahagia mereka lah yang sudah merawat dan membesarkan ku dan Raka selama ini. dan berkat pak de dan ibu de juga yang sudah menjadikan ku anak angkat mereka, pak de dan ibu de mereka sudah seperti ayah dan bunda ku, aku bahagia saat dekat dengan mereka, aku tidak merasa sedih saat mereka ada di samping ku. karena mereka sudah menganggap ku anak mereka sendiri karena memang mereka tidak mempunyai anak perempuan. namun terkadang aku merasa sedih ketika aku melihat teman-teman ku diperhatikan oleh orang tuanya.
"Aku butuh kasih sayang ayah dan bunda!"
"Kepergian sang nenek tersayang."
Saat aku sudah besar aku pun pergi untuk melanjutkan perjalanan hidup ku sekaligus aku ingin menuntut ilmu, aku pun meninggalkan nenek dan adik ku Raka atas izin nenek aku bisa pergi ke Pesantren yang aku inginkan, awalnya aku tidak ingin meninggalkan nenek sendirian dan aku tau jika nenek sering sakit-sakitan tapi, nenek menginginkan ku menjadi anak yang sukses, karena nenek yakin dengan kesuksesan ku nenek akan merasa senang karena nenek sudah berhasil mendidik ku dan tak sia-sia nenek dan kakek bersusah payah untuk membesarkan ku.
Singkat cerita!!!
jujur aku sangat merasa kaget ketika mendengar kabar dari saudaraku sekaligus bapak teman ku yang datang ke Pesantren untuk menjemput ku pulang dengan alasan yang sulit untuk ku terima.
"Amira, kita harus pulang nak," Ucap nya saat aku sudah berada di depannya.
"Kenapa? Amira tidak ingin pulang paman." Tolak ku dengan pelan.
"Tapi, nenek mu ingin melihat mu Amira!."
Jawaban itu! Seketika air mata ku menetes, aku merasa telah terjadi sesuatu dengan nenek namun apa itu apa itu aku tidak mengetahuinya? Pikiran ku pun melayang tiba-tiba aku tidak bisa lagi menerima jika kenyataan itu akan membuatnya kehilangan orang yang dia sayang, aku sangat menyayangi nenek, aku masih menginginkan nenek untuk selalu ada disamping ku.
"Amira, jangan menangis tidak terjadi apa-apa dengan nenek mu, dia hanya ingin melihat mu saja!" Ucap Ustdzah Ulfah menenangkan ku dan mengajak ku untuk bersiap-siap membereskan pakaian yang akan dibawa untuk pulang.
"Ustadzah, apa yang sebenarnya terjadi pada nenek?" Tanya ku saat aku sedang memasukan pakaian ku kedalam tas ku.
"Nenek mu tidak apa-apa, dia hanya ingin melihat mu saja, sudah jangan menangis berdoa lah semoga nenek mu tidak terjadi apa-apa!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar