Kamis, 09 Agustus 2018

Sahabat ku Menghilang

Menghilang... 
Entah apa salah ku saat ini
Kamu menghilang begitu saja Seperti daun yang tertiup angin...
Sahabat...
Aku rindu, sangat rindu. Rindu saat kita saling tertawa,
Menangis dan saling bertukar cerita... Kita yang saling egois,
Kita yang saling tak bisa menahan egois. Kita yang mencoba belajar,
Untuk menjadi dewasa. Semua itu sudah musnah, Karena sekarang,
Aku telah kehilangan mu Sahabat...

Pagi hari ini aku sangat malas untuk masuk sekolah, karena tak ada sahabat yang membuatnya semangat, dan hari-hari pun terasa berbeda tanpa kehadiran seorang sahabat yang selalu ada di samping kita, cuaca yang cerah untuk masuk sekolah namun, tidak secerah hati ini. Sahabat ku memang mempunyai sifat yang egois dan selalu berbeda pendapat dalam menentukan pilihan, tapi ada suatu yang membuat ku nyaman dengan mereka yaitu kebersamaan dan kekonyolan mereka, itulah yang membuat aku salalu merindukan mereka.
 

Selasa, 08 Mei 2018

Diary Bunda ^,

Bunda Anis rindu bunda...
Bagaimana kabar bunda sekarang? bagaimana bunda sekarang apakah bunda bahagia tinggal disana?
Apakah bunda bertemu para malaikat disana?
Anis rindu bunda...
Anis ingin bunda selalu ada disamping Anis, semenjak kepergian bunda hidup Anis hampa, Anis butuh Bunda, Anis tidak mau punya bunda baru, Anis tidak ingin bunda digantikan...
Bun, Anis kangen bunda...
Bunda, seandainya bunda masih hidup mungkin hidup Anis tidak seperti ini, Bunda Ibu pergi meninggalkan Anis untuk selamanya, pak dek pun pergi untuk selamanya. Anis tidak punya siapa-siapa bun, Bunda Anis kesepian, bunda Anis rindu semuanya.
Bunda, apakah bunda tau sekarang anis sudah dewasa anis sudah SMA bun, Anis sudah menjadi anak gadis, Anis pun sudah suka dengan laki-laki bun, Anis sedang suka dengan laki-laki yang tampan dan shaleh, bun, sudah berapa lama bunda pergi meninggalkan Anis dan Atir?
Sekarang pun Atir sudah besar bun.
Atir sudah tumbuh menjadi anak yang tampan.
dia butuh bunda, dia ingin tau wajah bunda yang cantik.
Bun, Anis dan Atir kesepian, kita butuh orang tua, kita butuh abah dan bunda.
Bun, semenjak kepergian bunda abah berubah, abah menjadi abah yang pendiam abah yang patuh pada istri barunya, Anis benci abah bun, anis benci abah, Anis tau abah ingin bertindak tapi, abah menjadi abah yang penakut, abah yang tidak perduli dengan anak-anaknya, Abah yang tega meninggalkan anak-anak nya hidup bersama orang lain, abah jahat bun.
Seandainya bunda masih hidup Atir pasti bisa hidup bahagia, Atir butuh kasih sayang dari bunda.
Sekarang Atir pun sudah kelas 3, semoga saja Atir bisa jadi anak kebahagian bunda dan abah ya bun.
Bunda, Anis butuh bunda untuk anis diwisuda kan nanti bun, anis tidak ingin yang hadir bunda baru Anis, Anis hanya ingin abah dan bunda yang naik diatas panggung nanti.
Bunda, Anis punya cita-cita ingin kuliyah diluar negeri, dan Anis cita-cita Anis ingin menjadi Dokter bun, anis ingin menjadi perawat, seperti doa Ibu dulu pada Anis, Anis ingin menunjukan pada semua orang jika anis bakal sukses tanpa bantuan dari orang tua, walaupun anis hanya orang biasa anis yakin bun, Anis bakal bisa membuat bunda merasa bahagia.
Bunda, Anis ingin cerita banyak pada bunda tentang semua perilaku bunda baru Anis terhadap abah.
Bunda, anis merasa kasihan pada abah yang salah memilih istri, Anis mohon bunda kembali lah dalam kehidupan anis lagi, anis ingin bunda, anis ingin tidur bersama bunda dan abah begitu juga dengan Atir bun, dia butuh Bunda dia butuh abah, Dia harus bahagia bun, anis tidak ingin Atir merasakan apa yang anis rasakan dulu, Atir harus bahagia bun

Minggu, 06 Mei 2018

Diary AYAH...

Ayah...
aku rindu denganmu, aku sayang denganmu, aku ingin ayah selalu ada disamping ku.
Ayah...Aku ingin ayah tau akan bagaimana perasaan ku saat ini.
Aku rindu Yah, aku rindu...
Satu hal yang ayah harus tau sampai sekarang aku belum bisa "Menerima Semua Kenyataan Ini Yah."
Semenjak ayah menikah lagi, ayah tau apa yang aku rasakan?

Aku tidak suka dengan pernikahan itu yah, aku tidak menginginkan ayah untuk kembali menikah.
Semenjak kepergian bunda, aku merasa kehilangan semuanya yah, aku merasa aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa selain ayah.
Tapi, kenapa saat itu ayah malah pergi meninggalkan ku dan Atir yang masih bayi.?
Apakah ayah tidak berpikir bagaimana Atir akan sayang dan kenal dengan ayah jika semenjak Atir lahir pun ayah tidak pernah menemui nya?
Bagaimana jika Atir tidak menganggap ayah itu ayah nya? Bagaimana yah, bagaimana?

Ayah ingat waktu itu? waktu aku jauh denganmu yah, waktu aku tidak diizinkan untuk menemui mu yah? Saat itu aku merasa ayah bukan lah ayah ku lagi, aku merasa ayah sudah tidak sayang lagi pada ku, aku berpikir ayah itu jahat yang meninggalkan anak-anak nya yang masih kecil, ayah yang tidak bertanggung jawab! Saat itu aku juga membenci ayah karena ayah sudah tak sayang lagi pada ku dan bunda dan juga Atir.

Namun, disisi aku menangis yah, aku menangis...
Aku rindu denganmu ayah, aku ingin ayah selalu ada disamping ku, aku ingin memeluk ayah dengan erat dan berkata pada ayah "Jangan Pergi Yah, Aku Ingin Ayah Tinggal Bersama ku."

Ayah kemana dirimu pergi? kenapa kau melakukan ini? kenapa kau tidak menemui Atir yang masih bayi? Apakah Ayah tidak ingin menggendong Atir?
Ayah, begitu banyak kesedihan ku waktu itu, ayah seharusnya tau aku kesepian, aku butuh orang tua, aku butuh ayah disaat bunda pergi, ayah lah yang seharusnya selalu ada disamping ku, ayah lah yang seharusnya menjaga ku. Tapi, ibu dan bapak tua lah yang membesarkan ku, mereka lah yang merawat ku yah, mereka lah yang membesarkan Atir, aku masih punya ayah namun, kemana ayah pergi?

Aku sayang dengan ibu yah, aku sayang dengan bapak tua, aku juga sayang dengan bapak ende, dak aku juga sangat sayang dengan Atir. Walau pun awalnya aku tidak menginginkan Atir hadir di dunia ini, tapi karena perjuangan Bunda yang harus melepaskan nyawanya hanya demi Atir bunda rela meninggal kan kita yah, Aku sangat membenci Atir karena Atir lah penyebab kematian bunda. Namun, aku berpikir Atir lah yang akan menggantikan bunda di hatiku dan kehidupan ku.

Aku sangat menyayangi Atir yah, aku sangat rindu dengan Atir di kala aku jauh dengan nya.
Ayah, sampai sekarang aku tidak bisa menerima kenyataan ini yah, keyataan yang tidak seharusnya ayah menikah lagi dengan nya. Aku tidak ingin mempunyai bunda tiri, aku pun tidak ingin memanggilnya bunda karena cukup satu orang saja yang akan ku panggil bunda.

Ayah, aku ingin ayah tinggal bersama ku, aku ingin ayah menemani hari-hari ku yah.


Salam Rindu dan Sayang ku yah...
     Khoirunnisa☺













Sabtu, 05 Mei 2018

“Penantian Yang Menyakitkan”

“Jika kamu mencintai seseorang, jangan pernah kamu berusaha untuk memiliki nya tapi, berusaha lah untuk membahagiakan nya.”

"Hawa..." Teriak Aisyah.
"Kamu memanggil ku?" Tanya Hawa heran saat Aisyah mendekatinya.
"Kamu mau ikut tidak, nanti malam ada Majlis Rosulullah di Jakarta" 
Hawa memang sangat menyukai acara itu di banding acara band. Tapi saat ini Hawa sedang tidak ingin  pergi ke mana-mana semenjak kejadian kemaren sore, yang membuat Hawa tidak ingin ketemu dengan Adam karena Hawa tau jika di acara Majlis Rosulullah itu pasti akan ada Adam dan kawan-kawan nya. Mau nolak pun Hawa tidak bisa karena Aisyah sudah mengajak nya untuk ikut bersama nya. Tapi apa yang harus Hawa lakukan?
"Hawa, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Aisyah sambil menundukan wajah nya untuk menyamai wajah Hawa yang menunduk.
"Maaf Aisy, seperti nya aku tidak bisa."Ucap Hawa dengan pelan namun jelas.
"Hawa, percaya lah di sana kamu tidak akan ketemu dengan Adam." Ucap Aisyah seraya tau apa yang sedang Hawa pikirkan.
"Tapi, Aisy..." Aisyah langsung memotong ucapan Hawa.
"Hawa percaya lah, niat kan tujua mu untuk berjumpa dengan para waliyu Allah dan para Habaib!" 
Hawa tidak bisa menolak, apa yang Aisyah ucapkan itu benar, lagi pula mengapa Hawa harus takut bertemu dengan Adam, dan mengapa Hawa yakin jika ia akan bertemu dengan Adam di sana. 
"Kamu mau kan ikut dengan ku?" Tanya Aisyah sambil tersenyum. Hawa pun mengangguk pelan.
"Ya sudah nanti aku jemput kamu ya. Assalamualaikum..."Aisyah pun meninggalkan Hawa sendiri.
#Pada pukul 09:15 malam.
"Assalamualaikum..." Ucap seseorang dari luar sambil mengetok pintu depan rumah.
"Wa'alaikum salam sebentar." Hawa pun menghampiri gagang pintu dan ternyata benar tamu pada malam ini adalah Aisyah yang ingin mengajak nya pergi untuk menghadiri Majlis. Namun, sepertinya malam ini Aisyah tidak dalang sendiri melainkan dengan seseorang di dalam mobil nya. Hawa pun penasaran.
"Aisyah, kamu dengan siapa?" Tanya Hawa sambil menoleh ke arah mobil Aisyah.
"Assalamualaikum, Hawa..." Teriak seseorang dari dalam mobil sambil melambaikan tangan nya.
"Fatimah, Wa'alaikum salam..."Hawa pun terkejut dengan kedatangan Fatimah ke rumah nya, sudah 2 Fatimah tidak pernah

Puisi untuk mu

Kini aku kehilangan ragamu karena adanya jarak. Maka dari itu, aku tidak menginginkan kehilangan cinta dan perhatianmu lagi.
Mungkin kamu tak akan pernah menjadi milikku. Tapi aku tetap bersyukur karena telah dipertemukan dengan kamu.
Aku sangat mencintai kamu. Mungkin ini salah satu alasan mengapa aku terus bertahan walaupun terhalang jarak yang memisahkan ragaku denganmu.
Aku memang tidak sempurna seperti mereka, tapi percayalah, cintaku ini begitu sempurna untukmu.
Sedih dan laraku cukup aku saja yang tau, kamu cukup tau bahwa aku baik-baik saja di sana.
Kamu berhasil membuat aku sayang sama kamu, membuat aku kepikiran kamu, membuat aku tau yang namanya rindu. Trus kamu pergi dari hdupku tanpa pamit.
Tidak ada yang tau dibalik senyumku ini ada sejuta luka yang aku sembunyikan.
Aku hanya ingin kamu mengerti rasa cinta ini, tumbuh perlahan murni dari dalam hati. Sebagai bukti bahwa aku milikmu, bila cinta datang mnghampirimu nanti.
Lelah sudah hati ini tersakiti tanpa terobati, ingin aku berlari dari kenyataan ini. Hapuskan semua luka yang datang menghampiriku.
Kita pernah berjanji untuk selalu bersama, tapi dunia ini inginkan kenyataan yang berbeda. Maka ikhlaskanlah.
Terimakasih ya, karena kamu kini aku menegerti banyak tentang kesabaran.
Beginikah caranya? kamu campakan aku begitu saja setelah kamu sudah berhasil membuat aku jatuh cinta. Sungguh ini terlalu sakit buatku.
Sedikitpun aku tidak pernah marah dengan semua perbuatanmu. Karna aku yakin suatu saat nanti kamu akan sadar sendiri dengan apa yang telah kamu perbuat padaku.
Sudah seharusnya kamu mengerti, aku juga membutuhkan perhatianmu walau sekecil apapun itu.
Selamat pagi rindu yang bertepuk sebelah tangan, tolong tanya pada hati kecilmu, masihkah sanggup untuk menopang rindu itu sendirian?
Yang paling menyakitkan adalah ketika aku sayang dan cemburu sama kamu, tapi aku cuma bisa memendam rasa ini .
Mungkin kamu tidak menyadari betapa tulusnya kasih sayangku ini , sehingga begitu mudahnya kamu selalu menyakiti hatiku.

Jumat, 27 April 2018

Deary Amira

"Perkenalan"
  Awal aku masuk ke sebuah pesantren yang bernama Pesantren Al-hidayah Al-mumtazah, pesantren yang terletak sangat jauh dari kampung halaman ku yaitu Serang Banten, untuk masuk ke sebuah Pesantren itu adalah impian ku, dan itu adalah kemauan ku untuk tinggal di sebuah Pesantren.
Awalnya aku tidak suka dan merasa tidak nyaman untuk tinggal di Pesantren namun, karena niat mulia ku ingin tinggal di Pesantren Allah pun memberikan aku kemudahan dan kenyamanan.

Selama aku anak baru di Pesantren, aku selalu ikut dengan saudaraku Ka Hesti, dia adalah santri wati yang sudah tinggal satu tahun di Pesantren ini, aku tidak pernah merasa tidak betah selama ada orang yang selalu bersama ku, dan aku pun tidak pernah merasa kesepian karena tidak memiliki teman karena di sana aku memiliki banyak saudara dan teman.

Awal aku masuk kelas, aku menjadi anak  yang diam dan malu, karena aku  merasa kaget ketika melihat ada anak santri putra yang masuk, karena aku kira di pesantren aku tidak akan bisa ketemu dengan santri putra, dan artinya kelas ku akan gabung dengan santri putra tapi, saat ospek aku merasa bukan berarti di Pesantren kita tidak pernah ospek tapi, di Pesantren ini aku melakukan ospek selama 5 hari setelah itu pimpinan mengizinkan kami untuk masuk ke kelas baru kami, 

Saat pertama kali aku duduk di kelas baru ternyata sebagian anak cewek sudah mengenal santri putra yang bernama Ikhwanuddin Hutasuhud, karena saat itu Iwan sedang di gosipin dengan Liza Aprilliani, saat itu aku sedang asik bercanda dengan teman baru ku seketika ada seorang laki-laki yang masuk ke kelas ku, dia bernama Ust. Raffy, seketika itu pula kami diam dan kelas pun menjadi sepi anak-anak semuanya diam.
"Assalamu'alaikum..." Ucap nya.
"Wa'alaikum salam" Jawab kami serempak.
"kalian anak kelas satu ya?" Tanya Ust. Raffy.
"iya Ust, kita anak kelas satu!" Jawab kami.
Setelah beliau bertanya-tanya, beliau pun menyuruh kami untuk berkenalan. Saat itu beliau juga menyuruh kami untuk diam dan mendengarkan.
"Harap diam dan dengarkan teman-teman nya yang sedang berkenalan."
Satu persatu teman kelas ku pun mengenalkan namanya masing-masing, saat itu aku sedang fokus memperhatikan teman-teman ku yang sedang perkenalan. Tapi entah kenapa hati ku langsung merasakan getaran dan mata ku langsung menatap laki-laki yang sedang berdiri didepan ku, hati ku rapuh seketika saat aku mendengar suara nya yang lantang dan fasih dalam menyebutkan namanya, sampai aku mengenalnya saat dia mengulang namanya, "Aku yakin suatu saat nanti, ketika kamu sudah dewasa kamu akan di rebutkan oleh para wanita." Dalam hati ku berkata, entah mengapa hati ku bisa berkata seperti itu apakah itu termasuk aku? setelah kami berkenalan sejak saat itulah aku tau jika aku mempunyai banyak teman di sini, dan Ust. Raffy bilang kami adalah kelas yang berjumlah paling banyak diantara kelas yang lainnya. Tiba-tiba terdengar suara Jaros berbunyi.
"Setelah ini, kalian akan diperkenalkan dengan wali kelas kalian masing-masing."Ucap Ust. Raffy sebelum meninggalkan kelas.
kami pun kembali berisik namun, entah kenapa mata ku mencari laki-laki yang bermana Sadam itu, dan akhirnya mata ku menemukan laki-laki yang bernama Sadam itu, karena mata ku melihat nama yang ter tempel di baju nya tepatnya diatas kantong bajunya, "Sadam Syahril Romli!" ternyata itu lah nama panjangnya, aku pun langsung memalingkan pandangan ku saat Sadam melihat ku yang sedang memperhatikannya.
"Apa yang sedang terjadi pada diriku?" Tanya batinku. Semenjak saat itulah aku menyimpan sebuah rasa entah itu rasa sayang, atau pun rasa cinta, atau pun hanya sekedar rasa kagum karena Sadam adalah sosok lelaki yang sholeh, tampan dan rajin dalam berpuasa senin dan kamis.


    saat pertama ku mengenalmuku rasa sesuatu yang berbeda
ku ingin mendekatimu
tapi ku takut kau menjauh
semakin lama rasa ini terpendam
        semakin aku ingin mendekatimu
      dari kejauhan ku melihatmu
      ku berharap kau pun merasakan
      iman dan takwamu yang meluluhkan
      rasa ini menjadi cinta
kekasih idaman yang ku harapkan
semoga cinta ini menjadi nyata
ana uhibbuka fillah
ku mencintaimu karena allah.

"Nisa..." Ucap Rosita membuat ku kaget.
"I...ya, Rosita ada apa?" Tanya ku gugup.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Rosita.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawabku.
"Apa yang sedang kamu tulis?" Tanya Rosita sambil menengok ke buku yang ada di tangan ku. "Coba aku lihat." Rosita pun melihat tulisan ku.
"Nisa, apa kamu sedang suka dengan seseorang?" Tanya Rosita.
"Tidak, siapa? aku tidak kenal dengan laki-laki disini." Jawab ku.

5 Bulan kemudian...
Aku mulai dekat dengan teman-teman kelas ku namun aku, rasa semua teman-teman ku semakin berkurang, karena ada sebagian dari anak cowok rata-rata pada pindah katanya ada bilang tidak betah. karena peraturan nya yang ketat dan lain-lain. 
Dan kini aku sudah punya banyak teman, teman-teman ku asik-asik aku pun senang berteman dengan mereka, namun aku masih malu untuk beradaptasi dengan anak cowok.
aku takut dan malu saat mereka memanggil ku atau pun mengajak ku berbicara.

Waktu itu aku menjabat sebagai seksi peralatan di kelas, aku duduk di kedua barisan tengah, saat itu juga aku duduk dengan Rosita, aku dekat dengan nya dia sekampung dengan ku, walaupun aku sekampung dengan Rosita tapi, aku tidak kenal dengan nya, rumah ku dengan rumahnya lumayan jauh, jadi wajar saja aku tidak mengenalnya. Aku sering berbagi cerita dengan nya tapi, aku sempat kesal dengan Rosita saat ia mengirim surat kepada anak cowok yang bernama Ian, aku tidak mengenal laki-laki itu dan aku juga tidak suka dengan nya, isi surat yang Rosita berikan sangat lah membuat ku marah aku sampai dipanggil Ustdzah karena surat itu ditemukan salah satu Ustdzah. Katanya aku berpacaran dengan Ian, aku kaget!!! Aku tidak tau kenapa Ustdzah berbicara seperti itu.

Keesokan Harinya...
"Rosita, aku ingin bicara sama kamu?" Aku menarik tangan dan membawanya ke tempat duduk.
"Ada apa Nisa?" Tanya nya sedikit kesal.
"Rosita, Rosita mengirim surat apa pada Ian?"
"hahahahah..." Rosita ketawa.
"Rosita Nisa serius, kemarin Nisa di panggil Ustdzah dan Nisa ditanya katanya Nisa berpacaran dengan Ian, kamu mah Ros, kalau bercanda keterlaluan!!!" Ucap ku dengan nada tinggi.




           

Sabtu, 14 April 2018

Aku merindukan mu bunda!




 Hai perkenalkan nama saya Nida Amiratun Nisa teman-temanku memanggil ku Amira
aku adalah seorang gadis kecil yang imut dan mungil. bundaku meninggal ketika bunda melahirkan adik pertama ku yaitu Raka saputra, aku sangat merasa kehilangan sosok bunda, bahkan aku tidak mau menganggap Raka sebagai adik karena gara-gara Raka bunda jadi meninggal tapi, nenek dan paman ku menasehatiku kata mereka" Raka adalah adik kandungmu, bundamu yang sudah melahirkannya untukmu, jika kamu tidak menyayangi nya berarti kamu tidak sayang sama bundamu?, jika kamu sayang dengan Raka bundamu pasti akan senang di alam sana" dengan lembut nenek menasehatiku tapi, aku tidak bisa menerima semua kenyataan pahit ini.
"Tapi nenek, gara-gara Raka bunda jadi meninggal Amira lebih baik tidak punya adik dari pada Amira punya adik apalagi adik cowok" Ucap ku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.

"Paman tau Amira tapi, ini semua sudah menjadi takdir mu dan kamu harus menerima semua ini dengan ikhlas, sayangi Raka seperti Amira menyayangi bunda Amira"ucap paman
semua perkataan paman dan nenek itu benar "Aku sudah kehilangan bunda dan aku tidak ingin kehilangan Raka juga, walau bagaimana pun Raka adalah adik ku satu-satunya dan bunda sudah melahirkannya dengan taruhan nyawa. dan aku harus pun mencoba dan berusaha untuk bisa menyayangi Raka dan menjaganya seperti bunda menjaga ku" janji ku pada diri sendiri
setelah kepergian bunda ayah tidak lagi tinggal bersama ku dan adik ku Raka aku merasa kehilangan kedua orang tuaku walaupun aku masih mempunyai nenek, kakek, paman dan bibi yang juga menyayangi ku tapi, aku rindu sosok ayah dan bunda yang selalu memanjakan ku.
ketika itu aku berpikir jika ayah memang jahat ayah yang tega meninggalkan anaknya sendirian dirumah, wajar saja paman dan kakek melarang ku untuk bertemu dengan ayah karena ayah sendiri saja tidak pernah memikirkan anaknya tapi, aku gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku.

 #Pagi yang cerah...

Ketika aku pergi sekolah aku iri dengan semua teman-temanku yang diantarkan oleh kedua orangtuanya sedangkan aku, aku tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan terlihat canda dan tawa mereka dengan kedua orangtuanya.
setelah pulang sekolah aku menangis di pelukan nenek aku tidak kuat merasakan ini semua aku ingin seperti mereka yang masih mempunyai kedua orangtuanya.
"Amira kenapa menangis, apakah ada yang menyakitimu di sekolah?" Tanya nenek.
"Nenek Amira iri dengan teman-teman Amira yang selalu diantar jemput dengan orangtuanya" ucap ku sambil menangis.
"Amira juga kan bisa diantar jemput dengan paman nanti" Nenek berusaha menenangkan ku
"nenek, kenapa ayah tidak pernah menemui ku dan Raka?" Tanyaku memberanikan diri tapi, nenek hanya diam.
"Nenek...apa yang sebenarnya terjadi pada ayah, sehingga paman melarang ku untuk menemui ayah dan mengapa kekek tidak mengizinkan ayah untuk tinggal bersama aku dan Raka disini Nek? apakah ayah tidak sayang pada Raka dan aku Nek?" Ucap ku dengan nada yang meninggi air mata ku telah membasahi pipi mungil ku dan baju sekolah ku.
"Amira, ayah sayang pada Amira dan Raka!" ucap nenek yang ikut bersedih.
"tapi, kenapa ayah tidak pernah mengunjungi atau pun menemui Raka dan Amira?" Tanya Amira yang membuat nenek bingung apa yang harus ia katakan pada cucunya ini.
"Amira, Amira tau sendiri kan ayah Amira sedang bekerja mencari uang untuk Amira sekolah dan membeli Raka susu"Ucap nenek berkata bohong.
"nenek bohong, ayah sudah tidak sayang lagikan sama amira? ayah memang jahat! amira benci sama ayah"amira pun berlari meninggalkan neneknya dan menangis didalam kamar.
Amira pun sangat kesal dengan ayahnya jadi wajar saja Amira berkata seperti itu.
                               &&&
Setelah bundaku meninggal aku jadi jauh dengan ayahnya, tidak tau kenapa aku dilarang untuk ketemu ayah bahkan ayah menikah pun aku tidak dibolehkan untuk bertemu dengan ayah dan bunda baru ku.
"Paman, kenapa Amira tidak dibolehkan untuk melihat pernikahan ayah? Amira ingin melihat bunda baru Mira?"Tanya ku dengan lirih.
"Amira sayang, biarkan ayah mu bahagia dengan istri barunya, Amira tidak boleh bertemu dengan ayah Amira !"Ucap paman tegas, aku pun langsung masuk ke kamar meninggalkan paman.
aku pun menemui nenek dan kakek di kamar adik bayiku Raka, ketika aku masuk aku merasakan kehadiran bundaku di kamar itu. Ingin rasanya menangis ketika rasa sedih yang aku rasakan saat melihat Raka yang kata orang mirip dengan bundaku dan sebagian lainnya orang bilang bunda mirip dengan ku.
     3 Tahun kemudian...
Hari demi hari aku selalu menjalankan hidup ku tanpa seorang bunda atau pun ayah di samping ku, kini aku telah duduk di kelas 3 SD, aku bisa sekolah tanpa uang dari ayah, hanya kakek dan nenek  yang mengharapkan ku untuk bisa sukses, nenek berharap aku bisa sekolah dan sukses walaupun tanpa ada orang tuaku di samping ku. adik ku pun Raka sudah besar berkat nenek dan kekek aku dan Raka bisa hidup bahagia mereka lah yang sudah merawat dan membesarkan ku dan Raka selama ini. dan berkat pak de dan ibu de juga  yang sudah menjadikan ku anak angkat mereka, pak de dan ibu de mereka sudah seperti ayah dan bunda ku, aku bahagia saat dekat dengan mereka, aku tidak merasa sedih saat mereka ada di samping ku. karena mereka sudah menganggap ku anak mereka sendiri karena memang mereka tidak mempunyai anak perempuan. namun terkadang aku merasa sedih ketika aku melihat teman-teman ku diperhatikan oleh orang tuanya.

"Aku butuh kasih sayang ayah dan bunda!"


"Kepergian sang nenek tersayang."

Saat aku sudah besar aku pun pergi untuk melanjutkan perjalanan hidup ku sekaligus aku ingin menuntut ilmu, aku pun meninggalkan nenek dan adik ku Raka atas izin nenek aku bisa pergi ke Pesantren yang aku inginkan, awalnya aku tidak ingin meninggalkan nenek sendirian dan aku tau jika nenek sering sakit-sakitan tapi, nenek menginginkan ku menjadi anak yang sukses, karena nenek yakin dengan kesuksesan ku nenek akan merasa senang karena nenek sudah berhasil mendidik ku dan tak sia-sia nenek dan kakek bersusah payah untuk membesarkan ku.
Singkat cerita!!!
jujur aku sangat merasa kaget ketika mendengar kabar dari saudaraku sekaligus bapak teman ku yang datang ke Pesantren untuk menjemput ku pulang dengan alasan yang sulit untuk ku terima.
"Amira, kita harus pulang nak," Ucap nya saat aku sudah berada di depannya.
"Kenapa? Amira tidak ingin pulang paman." Tolak ku dengan pelan.
"Tapi, nenek mu ingin melihat mu Amira!."
Jawaban itu! Seketika air mata ku menetes, aku merasa telah terjadi sesuatu dengan nenek namun apa itu apa itu aku tidak mengetahuinya? Pikiran ku pun melayang tiba-tiba aku tidak bisa lagi menerima jika kenyataan itu akan membuatnya kehilangan orang yang dia sayang, aku sangat menyayangi nenek, aku masih menginginkan nenek untuk selalu ada disamping ku.
"Amira, jangan menangis tidak terjadi apa-apa dengan nenek mu, dia hanya ingin melihat mu saja!" Ucap Ustdzah Ulfah menenangkan ku dan mengajak ku untuk bersiap-siap membereskan pakaian yang akan dibawa untuk pulang.
"Ustadzah, apa yang sebenarnya terjadi pada nenek?" Tanya ku saat aku sedang memasukan pakaian ku kedalam tas ku.
"Nenek mu tidak apa-apa, dia hanya ingin melihat mu saja, sudah jangan menangis berdoa lah semoga nenek mu tidak terjadi apa-apa!"










nidaamiratunnisa

Saya percaya, kebaikan sering lahir dari langkah sederhana. Tidak selalu dalam bentuk yang besar atau monumental, tetapi justru dari aksi ke...